Aceh Utara – ForumKeadilanAceh.com | Penderitaan warga pascabanjir di Kabupaten Aceh Utara kian memprihatinkan. Lebih dari dua bulan setelah banjir surut, pasokan air bersih dari PDAM Aceh Utara belum juga mengalir ke Desa Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam warga terhadap kinerja instansi terkait. Kamis (29/01/2026).
Hingga kini, kebutuhan paling dasar masyarakat tersebut belum terpenuhi. Lemahnya pemulihan layanan air bersih dinilai sebagai bukti lambannya respons pemerintah dalam menangani dampak pascabanjir, khususnya bagi warga Alue Bili Geulumpang.
Ironisnya, di saat desa-desa lain di Kecamatan Baktiya telah kembali menikmati pasokan air bersih, baik melalui jaringan PDAM maupun distribusi air sementara, warga Alue Bili Geulumpang justru masih harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Bantuan air bersih memang sempat disalurkan pada awal pascabanjir, namun sifatnya hanya sementara dan tidak berkelanjutan. Hingga lebih dari dua bulan berlalu, air PDAM tak kunjung mengalir dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan normal.
“Sudah lebih dari dua bulan kami hidup tanpa air bersih. Desa tetangga bisa menikmati air, kenapa kami tidak?” ujar Zulfikar, perwakilan warga setempat, dengan nada kecewa.
Ia menegaskan bahwa Desa Alue Bili Geulumpang bukanlah wilayah terpencil. “Kami berada di kawasan jalan lintas, tapi perlakuan yang kami terima seperti desa yang dilupakan,” tegasnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terhadap kinerja PDAM Aceh Utara serta dinas terkait yang dinilai lamban dan tidak responsif terhadap keluhan masyarakat. Warga menilai persoalan ini bukan masalah sesaat, melainkan telah berlangsung lebih dari dua bulan tanpa kejelasan penyelesaian maupun target waktu yang pasti.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat langkah tegas dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Alasan teknis dinilai tidak lagi relevan jika kebutuhan dasar masyarakat terus diabaikan. Warga pun mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap PDAM Aceh Utara, termasuk kemungkinan pergantian pimpinan jika dinilai tidak mampu bekerja cepat dan responsif.
“Air bersih adalah kebutuhan paling dasar. Kalau lebih dari dua bulan saja tidak bisa diselesaikan, jangan rakyat terus yang dijadikan korban,” tambah Fajriadi, warga lainnya.
Masyarakat Alue Bili Geulumpang berharap pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi nyata yang dialami warga, bukan hanya menerima laporan administratif. Menurut warga, kehadiran kepala daerah dan tindakan konkret jauh lebih dibutuhkan daripada janji dan alasan yang terus berulang.
Warga juga menyampaikan ultimatum. Jika dalam waktu satu minggu ke depan tidak ada progres maupun perubahan, mereka berencana mengirimkan surat resmi serta video berisi kekecewaan warga langsung kepada Bupati Aceh Utara.
Demi menjaga keseimbangan pemberitaan, pihak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada manajemen PDAM Aceh Utara. Melalui pesan singkat, T. Hidayatuddin selaku Direktur Umum PDAM Aceh Utara hanya membalas, “Itu nomor Dirtek, coba kirim ke beliau karena terkait teknis beliau lebih paham. Pasca banjir banyak fasilitas kami yang rusak, tentunya menjadi kendala juga dalam suplai.”
Media kemudian mencoba menghubungi Direktur Teknik Perumda Tirta Pase, Ferry Syahputra, S.T., melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon. Pesan diketahui telah diterima, namun hingga berita ini dipublikasikan, pihak PDAM Aceh Utara belum memberikan respons maupun keterangan resmi.












