LHOKSEUMAWE – ForumKeadilanAceh.com | Di tengah derasnya arus modernisasi dan pola konsumsi instan, Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe terus meneguhkan komitmennya dalam membangun fondasi kesehatan generasi masa depan.
Salah satu upaya strategis yang kini sedang digencarkan adalah kampanye edukatif bertajuk “Isi Piringku Balita” yaitu sebuah gerakan nasional yang diadopsi secara progresif di daerah guna memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang tepat, seimbang, dan berkualitas.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Safwaliza, S. Kep, MKM mengatakan gerakan tersebut bukan hanya sekadar kampanye menu makanan sehat, tetapi menjadi bagian integral dari upaya peningkatan status gizi anak, dan pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
Ia menjelaskan bahwa edukasi isi piringku balita bukan sekadar imbauan, tetapi sebuah instrumen strategis kesehatan bagi anak-anak yang diintegrasikan ke dalam berbagai lini layanan kesehatan, pendidikan, dan keluarga.
“Isi piring balita bukan sekadar nasi, lauk, dan sayur, tetapi juga mencerminkan pengetahuan keluarga terhadap kebutuhan tubuh anak dalam masa tumbuh kembangnya,” ujar Safwaliza Rabu, 1 Oktober 2025.
Dirinya menekankan bahwa dalam sepiring makanan anak seharusnya mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, vitamin, mineral dari buah dan sayuran, serta air putih yang cukup.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Zainal Abidin, SKM menyebutkan pihaknya terus memberikan pemahaman sederhana kepada masyarakat bahwa asupan bergizi tidak harus mahal.
Masyarakat diajak mengenali potensi lokal, seperti ikan, telur, kacang-kacangan, bayam, kangkung, pepaya, pisang, dan beragam pangan lokal, sebagai sumber gizi utama.
“Banyak masyarakat kita yang mengira makanan sehat itu harus mahal, padahal tidak demikian, justru pangan lokal kita kaya akan nutrisi, seperti ikan laut, sayur-sayuran di pasar, semua bisa menjadi menu sehat bila diolah dengan cara yang benar,” kata Zainal.
Dalam penerapan kampanye “Isi Piringku Balita” Dinkes Lhokseumawe juga menggandeng lintas sektor, seperti Dinas pendidikan dan kebudayaan, Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, PKK, Kepala desa (Keuchik), serta para kader Posyandu untuk menjalankan edukasi secara massif kepada masyarakat. (Advertorial)












