Aceh – ForumKeadilanAceh.com | Islam datang dengan membawa jejak yang dapat dilacak secara historis maupun filosofis. Jejak inilah yang menjadi pijakan masa kini untuk memahami Islam secara universal lintas zaman. Islam adalah ajaran mulia yang secara nilai terukur dalam pelaksanaan dan pengamalan, sebuah ajaran yang tidak hanya diwariskan namun juga terus-menerus diajarkan lintas generasi.
Mengapa Islam terus eksis sampa hari ini? Menjawab pertanyaan ini, Islam memiliki banyak jawaban untuk sampai pada sebuah hasil yang memuaskan. Secara historis Islam klasik, peradaban-peradaban yang pernah ada dahulu selalu berkembang beriringan dengan hadirnya usaha-usaha untuk memahamkan Islam kepada umat.
Jejak-jejak peradaban Islam seperti Abbasiyah, Cordoba, Konstantinopel, dan Samudera Pasai menjadi bukti sejarah bahwa Islam datang membawa kedamaian dan kesejahteraan. Hal ini memberi gambaran spesifik tentang seluk-beluk Islam dari masa ke masa. Jejak Islam di Nusantara misalnya dapat diketahui dari literatur-literatur yang ada, bahwa perkembangannya tercatat dari abad ke abad.
Pengetahuan tentang Islam tidak terlepas dari perkembangan sejarah dan kebudayaan yang ada. Di masa dulu Islam dikenal dengan ajaran teologis tunggal dalam artian selalu terikat pada kepercayaan terhadap Allah Swt. Kehadiran Islam dengan pesan mulianya telah membentuk kebudayaan baru setelah Arab Jahiliyah. Jika berkaca pada kaum Jahiliyah, maka kebudayaan yng ada pada masa itu tidak bisa dikaitkan dengan keislaman karena Islam dibawa oleh utusan Allah Swt. kepada umat manusia setelah diwahyukan.
Islam sebagai sebuah peradaban tidak hanya tumbuh dari keyakinan spiritual, tetapi juga dari cara pandang ontologis yang menempatkan Allah sebagai pusat realitas, manusia sebagai khalifah, dan alam sebagai amanah. Kerangka inilah yang kemudian melahirkan dinamika ilmu pengetahuan, etika sosial, dan kebudayaan dalam sejarah Islam klasik. Peradaban Islam tidak berkembang secara acak, tetapi selalu bertumpu pada fondasi tauhid yang mengatur hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.
Pada masa Abbasiyah, misalnya, pemikiran filsafat dan ilmu berkembang pesat. Para tokoh seperti Al-Farabi dan Ibn Sina menyelaraskan wahyu dan akal sebagai bagian dari pencarian hakikat keberadaan. Bagi mereka, ilmu bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi jalan untuk memahami sumber keberadaan itu sendiri, yakni Allah Swt. Semangat inilah yang membuat Baghdad menjadi pusat intelektual dunia.
Cordoba, menunjukkan wajah peradaban yang menyeimbangkan ilmu dan estetika. Arsitektur megah, perpustakaan, hingga institusi pendidikan menjadi bukti bagaimana ontologi Islam melahirkan kebudayaan yang menghargai harmoni dan keindahan sebagai cerminan ketauhidan. Ibn Rushd berjuang menjelaskan bahwa agama dan filsafat tidak dalam keadaan saling bertentangan, tetapi sama-sama menuntun manusia pada kebenaran.
Jejak serupa tampak di Konstantinopel setelah jatuh ke tangan Muhammad Al-Fatih. Kota itu tidak hanya menjadi simbol kemenangan, tetapi juga pusat pembaruan hukum, militer, dan pendidikan. Ontologi Islam mendorong umat muslim untuk tidak hanya beriman, tetapi juga berperadaban. Begitu pula di Nusantara, Islam menyatu dengan budaya lokal sehingga melahirkan corak Islam ramah yang tetap berpegang pada nilai ketauhidan. Dakwah para ulama tidak hanya mengubah keyakinan masyarakat, tetapi juga etika sosial, ekonomi, dan relasi kemanusiaan.
Jejak-jejak ini menunjukkan satu hal penting, yaitu ketika ontologi Islam dihidupkan dalam kehidupan sosial, ia melahirkan peradaban yang maju dan beradab. Di masa klasik, Islam tidak dipahami sekadar sebagai ritual individual, tetapi sebagai landasan untuk membangun dunia yang bermakna dan berkeadilan. Sehingga akumulasi dari peradaban-peradaban besar yang pernah berkembang saat itu, setidaknya telah menjelma dalam realitas hari ini sebagai wujud meneruskan tradisi-tradisi baik keislaman.
Orientasi ontologis Islam tidak hanya membahas apa yang ada, tetapi juga untuk apa keberadaan itu diciptakan. Itulah mengapa dalam sejarah Islam klasik, ilmu selalu diarahkan untuk kemaslahatan. Setiap pengetahuan yang berkembang memiliki tujuan etik dan spiritual. Para ilmuwan seperti Al-Khwarizmi, Ibn Al-Haytham, dan Al-Biruni tidak hanya berprestasi di panggung dunia, tetapi juga selalu memulai penelitian dengan kesadaran bahwa alam adalah ayat Allah yang harus dibaca. Lahirnya tokoh-tokoh ini bukan tanpa sebab, mereka adalah penerus kenabian dalam menyebarkan misi-misi keislaman.
Ontologi Islam memberikan makna bahwa memahami alam berarti mendekat kepada Sang Pencipta. Sebab itu ilmu dalam Islam bersifat transenden, tidak pernah dipisahkan dari nilai dan akhlak. Selain itu, ontologi Islam menempatkan manusia pada posisi mulia tetapi tetap bertanggung jawab. Konsep khalifah bukan hanya simbol kekuasaan, melainkan mandat untuk memakmurkan bumi. Makna ini menjelaskan mengapa kota-kota Islam klasik menjadi pusat perdagangan, keilmuan, dan hukum yang menjunjung tinggi keadilan. Peradaban lahir karena manusia menjalankan perannya sesuai dengan desain penciptaannya.
Namun, jejak keemasan itu juga memberi peringatan. Ketika fondasi ontologis mulai diabaikan dan Islam dipersempit hanya sebagai ritual, peradaban tidak lagi tumbuh seperti dahulu. Itulah pelajaran penting dari Sejarah bahwa ketika umat meninggalkan pijakan ontologisnya, cahaya peradaban meredup. Maka, mempelajari jejak Islam klasik bukan sekadar nostalgia, melainkan usaha menyalakan kembali ruh pengetahuan yang pernah menggerakkan dunia.
Jejak-peradaban Islam klasik mencatat bahwa pembinaan ilmu dan kebudayaan tidak lepas dari kerangka ontologis yang dipegang teguh. Misalnya, pada masa Abbasiyah di Baghdad, diluncurkan institusi-ilmiah besar yang menjadi pusat intelektual dunia. Melalui tradisi penerjemahan, kolaborasi antar budaya, dan riset asli, ilmu pengetahuan berkembang bersama nilai-Islam sebagai fondasi.
Tokoh seperti Ibn al‑Haytham menunjukkan bagaimana kajian optika, eksperimentasi, dan pengamatan alam bisa dilakukan dalam bingkai ontologi Islam, yakni bahwa alam dan fenomena fisik bukan hanya objek utilitas, tetapi juga ayat yang menunjuk ke pencipta. Andalus pun tampak bagaimana perpustakaan besar dan kemajuan ilmiah muncul sebagai bagian dari peradaban yang menyerap warisan Yunani, Persia, India, kemudian mengembangkannya dalam kerangka Islam.
Menilik ke Nusantara, jejak peradaban Islam klasik turut membentuk budaya lokal seperti dakwah, syiar, pengajaran ulama yang membingkai Islam tidak hanya sebagai keyakinan ritual, tetapi sebagai sistem pemahaman realitas dan pembangunan masyarakat. Dengan demikian, ontologi Islam yakni keyakinan akan Allah sebagai asal segala, manusia sebagai khalifah, alam sebagai amanah, menjadi pijakan yang memungkinkan Islam terus hidup dan relevan lintas zaman.
Islam klasik menunjukkan bahwa keberlangsungan Islam bukan hanya karena ritual dan moral semata, melainkan karena kemampuannya menghadirkan kerangka makna yang komprehensif yaitu secara teologi, filsafat, ilmu, budaya, etika. Inilah fondasi ontologis yang membuat Islam dapat membumikan dan hidup dalam konteks masyarakat benar-benar nyata.
Dari pemahaman di atas dapat diketahui bahwa kesimpulan ontologis dari jejak peradaban Islam klasik menemukan titik penjelasan yang komprehensif. Ontologi Islam berkembang dimulai sejak zaman kenabian yang kemudian diteruskan oleh generasi setelahnya hingga sampai kepada ulama-ulama dan tokoh-tokoh reformis Islam. Sehingga sampailah ajaran Islam kepada kita hari ini, semua ini tidak terlepas dari perjuangan orang-orang terdahulu yang memiliki keteguhan dalam meneruskan misi kenabian.
Opini
Penulis : Zahratul
Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia
Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe












